Alasan untuk tidak mengerti arti
dari globalisasi sudah ketinggalan zaman. Awal dikenalkannya Globalisasi di
negara berkembang menuai kontroversi. Pro dan kontra sudah pasti menjadi hasil
dari proses yang akan diberlakukan. Beruntung apabila globalisasi akan
memajukan urusan negara, menyedihkan ketika negara kalah bersaing dalam proses
globalisasi. Karena kita tidak dapat menghindar dan mengelak bahwa kita sedang
berproses.
Islam didatangi kritik ketika
perihal globalisasi. Sudah umum menganggap Islam sebagai agama yang kaku,
menurut mereka yang melihat aksi para kaum muslim bukan melalui telaah agama
itu sendiri. Sesungguhnya yang membawa image
buruk bagi agama adalah kaumnya yang tidak berhat-hati dalam bertindak. Perilaku
baik menjadi hal yang tidak perlu diberi perhatian sedangkan perilaku buruk
sedikit saja dapat merubah semua penilaian baik. Semua kembali kepada individu.
Individu pula yang akan melancarkan globalisasi.
Globalisasi terkenal akan
peningkatan teknologi, penyebaran ajaran sehingga dapat memajukan suatu kaum,
perluasan perdagangan dan banyak hal lagi. Ketakutan setiap agama mayoritas
yang mendiami suatu wilayah adalah ketika globalisasi akan ikut campur dalam
berbudaya dan agama. Karakter suatu negara dapat dilihat dari budayanya. Apabila
globalisasi menunjukkan bahwa tidak ada lagi batasan dalam melakukan komunikasi,
yang menjadi kunci, tidak hanya kerjasama yang saling bertukar tetapi
penyebaran paham tertentu mengiringi disebaliknya. Budaya Barat akan
mengalahkan budaya Asia yang saling gotong-royong, pula ketika suatu negara
yang kental akan ajaran agama mau tidak mau akan terkena pengaruh budaya Barat.
Kembali kepada individu yang seharusnya pintar dalam memilah informasi. Sosialisasi
ke penjuru pelosok negri dibutuhkan sehingga dapat mengerti mana yang
seharusnya ilmu yang dapat diterapkan dan mana yang tidak.
Jikalau mencemaskan dominasi Barat
dalam agama Islam, para ulama sebaiknya memanfaatkan situasi ini dalam
berdakwah. Toh globalisasi
melambangkan kebebasan dalam mengakses informasi dengan pengenalan internet dan
satelit yang bebas akses sehingga belahan bumi diluar sana dapat memahami Islam
dan beruntung menambah jamaah tabligh. Memperluas pemahaman dan mempersempit
wilayah menjadi kunci globalisasi. Tidak perlu bersusah payah mendatangi
negara, kota, desa satu dan yang lain. Sosial media dan situs untuk broadcast video sudah banyak dan
mendaftarnya pun mudah nan gratis. Pemanfaatan fasilitas digunakan seefektif
dan seoptimal mungkin. Budaya Barat menurut saya dapat beriringan dengan budaya
Islam sub berdakwah. Anak kecil, remaja, hingga lanjut usia tidak jauh dari
telepon pintar. Merekrut developer
untuk membuat aplikasi yang berisi konten Islam yang dapat diunduh gratis salah
satu solusinya. Sehingga alasan untuk tidak mengetahui tentang suatu agama
seperti tidak sempat mendatangi pengajian rutin dan cermah dapat diminimalisir
dengan adanya aplikasi tersebut.
Fitur share sangat membantu dalam penyebaran informasi. Tanpa unduh tanpa
mencari, dengan seseorang yang berteman dengan anda di sosial media dan men-share yang berisi nilai-nilai, tidak
hanya Islami, akan terpampang di homepage
anda yang tanpa sengaja pasti akan terlihat. Salah satu kecemasan budaya Barat
yang tidak peduli sekitar dan hanya memandangi layar seluler akan diminimalisir
apabila apa yang dituangkan didalam sosial media disaring. Cukup berpengaruh
ketika anda menambahkan yang menjadi teman di sosial media, karena di alam
bawah sadar akan terekam semua apa yang sudah dibaca, baik itu bermanfaat atau
tidak. Tidakkah bosan menyalahi budaya Barat ketika generasi sekarang menjadi
tidak peka dengayn keadaan sekitar?
Pendidikan untuk saling peduli dan
peka akan keadaan suatu hal perlu diajarkan sejak dini. Apa yang dilihat suatu
masyarakat yang mengkhawatirkan lunturnya budaya yaitu takut kalah sebelum
bertarung. Belum berjuang untuk mempertahankan dan menyebarkan, sudah tidak
bernyali untuk mengikuti kompetisi. Budaya Barat tidak melulu jelek, Cuek dan
tidak peka berakar dari sikap mereka yang tidak ingin mencampuri urusan orang
yang belum tentu menjadi urusannya, pula menjadi mandiri tidak meminta bantuan
apabila sanggup melakukannya sendiri.