Minggu, 08 November 2015

Human-Rights or Human Always Right

            Human Rights atau human always right? Alasan untuk memiliih frasa seperti itu adalah ketika terkadang hak dinomorsatukan diiringi ego daripada kemanusiaan dan toleransi. Menuntut apa yang menurutnya benar daripada menjunjung untuk kebaikan bersama dengan adil. Orang yang memiliki kedudukan tinggi akan lebih terpandang dan haknya akan selalu terpenuhi dibanding dengan rakyat kecil yang pendapatannya bahkan untuk makan sehari untuk sekeluarga saja tidak cukup. Bukan maksud untuk menjadi skeptis dan sinis, tetapi hal tersebut sudah menjadi fakta yang ditemukan dalam keseharian. Biarkan mereka berteriak Bhinneka Tunggal Ika dan tidak pandang bulu, hukum negara berlaku untuk semua warga didalamnya, namun kenyataannya hakim saja dapat disuap?
            Hak asasi yang disebutkan di atas dalam pandangan sosiologis. Dalam hal yang relijius terdapat pula hak asasi. Salah satunya hak dalam memilih agama, tidak. Mari ubah hak asasi tersebut dengan hak dalam memilih untuk percaya atau tidak percaya untuk memeluk suatu agama kepercayaan. Mengganti agama dengan kepercayaan setidaknya membuat ulasan ini lebih general. Disekitar era ini menjadi ateis atau agnostik layaknya sebuah tren yang diikuti. Entah memang mereka merasakan hal tersebut sesuai jiwanya dan mengikuti kaidah atau ketika ada seorang yang menjadi pujaannya sharing tentang hal tersebut lalu setuju dan mengikuti dibelakangnya yang menjadi pertanyaan. Penafsiran dalam kitab suci agama, yang diakui di Indonesia khususnya, memang perlu kajian mendalam dan dapat dilihat dari perspektif manapun sesuai ilmu bidang yang melatarbelakangi seorang pengkaji. Selain itu, orang yang suka mempelajari akan sesuatu yang baru dan terus menggali hingga akar pula menjadi salah satu bibit mengubah orang tidak mempercayai satu hal saja salah satunya agama Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga rata-rata yang menjadi atau mengakui dirinya atheis atau agnostik adalah orang yang terpelajar dan pelajar. Ya, pelajar, karena rentang usia pelajar tersebut adalah masa dimana seseorang tidak hanya memiliki penasaran seperti halnya anak balita yang sedang belajar mengenali benda, tetapi memiliki keinginan untuk terjun pula dan menjadi bagian dari hal yang dipelakari. Nekad dan tekad pun mengiringi rasa keingintahuan itu.
            Tidak terlepas dari hak individu untuk mempercayai atau tidak mempercayai agama, bahkan ragu akan eksistensi Tuhan, hal yang bermasalah di negri ini adalah toleransi. Sebut saja para bigotry, yang mayoritas memeluk agama Islam dengan sedihnya membalas seseorang yang telah mengakui bahwa dirinya atheis atau agnostik dengan ayat-ayat kitab suci yang akan dengan mudahnya dibalas pula dengan alasan yang tak kalah kuat dan valid. Pada analisa sebelumnya karena memang rata-rata yang mereka lawan adalah terpelajar, sedangkan rata-rata pula yang melawan adalah orang  intolerance yang hanya awam dan kurang terpelajar dan menelan mentah tanpa mencerna apa yang mereka terima. Memaksakan untuk mengikuti jalan yang dianggapnya lurus, tetapi lurus bagi sebagian orang berbeda satu dengan yang lain. Sikap tersebut menyebabkan image Islam buruk, bahwa Islam itu kaku, tidak memiliki toleransi, mengajarkan untuk ikut campur dalam urusan beragama. Hak asasi akan diindahkan apabila ada toleransi. Jangan hanya berteriak untuk menegakkan hak jikalau toleransi masih menjadi utopia.

“Dalam al-Qur’an terdapat sekitar empat puluh ayat yang berbicara mengenai paksaan dan kebencian. Lebih dari sepuluh ayat bicara larangan memaksa, untuk menjamin kebebasan berfikir, berkeyakinan dan mengutarakan aspirasi. Misalnya: "Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu, barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir." (QS. 18: 29)”
            
Alangkah indahnya negara yang kita diami ini, memiliki toleransi yang tinggi. Bukankah tidak sopan untuk mengurusi hubungan antara manusia dengan Pencipta-nya? Biarkanlah hubungan tersebut tetap sakral dan intim diantara keduanya, tanpa ada campur tangan pihak ketiga, keempat, dst. Kedudukan manusia memang yang mulia dibanding dengan ciptaan-Nya yang lain, akan tetapi untuk tetap rendah hati karena kita manusia hanya salah satu ciptaan-Nya yang sempurna dan tidak mencoba untuk menggurui satu sama lain karena ada yang lebih besar dari manusia membuat suasana lebih kondusif. Memang berdakwah dianjurkan, tetapi banyak cari lain selain melakukan pemaksaan dan menghakimi seseorang untuk ke jalan yang lurus. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar