Human Rights atau human always
right? Alasan untuk memiliih frasa seperti itu adalah ketika terkadang hak
dinomorsatukan diiringi ego daripada kemanusiaan dan toleransi. Menuntut apa
yang menurutnya benar daripada menjunjung untuk kebaikan bersama dengan adil. Orang
yang memiliki kedudukan tinggi akan lebih terpandang dan haknya akan selalu
terpenuhi dibanding dengan rakyat kecil yang pendapatannya bahkan untuk makan
sehari untuk sekeluarga saja tidak cukup. Bukan maksud untuk menjadi skeptis
dan sinis, tetapi hal tersebut sudah menjadi fakta yang ditemukan dalam
keseharian. Biarkan mereka berteriak Bhinneka Tunggal Ika dan tidak pandang
bulu, hukum negara berlaku untuk semua warga didalamnya, namun kenyataannya hakim
saja dapat disuap?
Hak asasi yang disebutkan di atas
dalam pandangan sosiologis. Dalam hal yang relijius terdapat pula hak asasi.
Salah satunya hak dalam memilih agama, tidak. Mari ubah hak asasi tersebut
dengan hak dalam memilih untuk percaya atau tidak percaya untuk memeluk suatu agama
kepercayaan. Mengganti agama dengan kepercayaan setidaknya membuat ulasan ini
lebih general. Disekitar era ini menjadi ateis atau agnostik layaknya sebuah
tren yang diikuti. Entah memang mereka merasakan hal tersebut sesuai jiwanya dan
mengikuti kaidah atau ketika ada seorang yang menjadi pujaannya sharing tentang hal tersebut lalu setuju
dan mengikuti dibelakangnya yang menjadi pertanyaan. Penafsiran dalam kitab
suci agama, yang diakui di Indonesia khususnya, memang perlu kajian mendalam
dan dapat dilihat dari perspektif manapun sesuai ilmu bidang yang melatarbelakangi
seorang pengkaji. Selain itu, orang yang suka mempelajari akan sesuatu yang
baru dan terus menggali hingga akar pula menjadi salah satu bibit mengubah
orang tidak mempercayai satu hal saja salah satunya agama Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga
rata-rata yang menjadi atau mengakui dirinya atheis atau agnostik adalah orang
yang terpelajar dan pelajar. Ya, pelajar, karena rentang usia pelajar tersebut
adalah masa dimana seseorang tidak hanya memiliki penasaran seperti halnya anak
balita yang sedang belajar mengenali benda, tetapi memiliki keinginan untuk
terjun pula dan menjadi bagian dari hal yang dipelakari. Nekad dan tekad pun
mengiringi rasa keingintahuan itu.
Tidak terlepas dari hak individu
untuk mempercayai atau tidak mempercayai agama, bahkan ragu akan eksistensi
Tuhan, hal yang bermasalah di negri ini adalah toleransi. Sebut saja para bigotry, yang mayoritas memeluk agama
Islam dengan sedihnya membalas seseorang yang telah mengakui bahwa dirinya
atheis atau agnostik dengan ayat-ayat kitab suci yang akan dengan mudahnya
dibalas pula dengan alasan yang tak kalah kuat dan valid. Pada analisa
sebelumnya karena memang rata-rata yang mereka lawan adalah terpelajar,
sedangkan rata-rata pula yang melawan adalah orang intolerance
yang hanya awam dan kurang terpelajar dan menelan mentah tanpa mencerna apa
yang mereka terima. Memaksakan untuk mengikuti jalan yang dianggapnya lurus,
tetapi lurus bagi sebagian orang berbeda satu dengan yang lain. Sikap tersebut
menyebabkan image Islam buruk, bahwa
Islam itu kaku, tidak memiliki toleransi, mengajarkan untuk ikut campur dalam
urusan beragama. Hak asasi akan diindahkan apabila ada toleransi. Jangan hanya berteriak
untuk menegakkan hak jikalau toleransi masih menjadi utopia.
“Dalam al-Qur’an terdapat sekitar empat puluh
ayat yang berbicara mengenai paksaan dan kebencian. Lebih dari sepuluh ayat
bicara larangan memaksa, untuk menjamin kebebasan berfikir, berkeyakinan dan
mengutarakan aspirasi. Misalnya: "Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu,
barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin
kafir, biarlah ia kafir." (QS. 18: 29)”
Alangkah indahnya negara yang kita
diami ini, memiliki toleransi yang tinggi. Bukankah tidak sopan untuk mengurusi
hubungan antara manusia dengan Pencipta-nya? Biarkanlah hubungan tersebut tetap
sakral dan intim diantara keduanya, tanpa ada campur tangan pihak ketiga,
keempat, dst. Kedudukan manusia memang yang mulia dibanding dengan ciptaan-Nya
yang lain, akan tetapi untuk tetap rendah hati karena kita manusia hanya salah
satu ciptaan-Nya yang sempurna dan tidak mencoba untuk menggurui satu sama lain
karena ada yang lebih besar dari manusia membuat suasana lebih kondusif. Memang
berdakwah dianjurkan, tetapi banyak cari lain selain melakukan pemaksaan dan
menghakimi seseorang untuk ke jalan yang lurus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar