Dari zaman nenek moyang sampai era
modern dan globalisasi, isu gender tidak pernah kehabisan topik untuk dibahas. Sebenarnya
gender itu apa? Jangan salah menyangka apabila mendengar isu gender yang selalu
dikaitkan adalah pihak perempuan. Padahal gender tidak hanya perempuan saja. Gender
hanya sebuah konstruksi untuk melihat peran sesuai kelamin yang dimiliki. Dari pemilihan
kata untuk pengartian gender dalam bidang sosial saja jelas terlihat apabila
manusia menyukai hal yang dikotak-kotakkan. Batasan yang dibuat melalui imajinasi
dan menunjukkan suatu kekuasaan. Ya, kekuasaan apabila seorang laki-laki akan
mengerjakan pekerjaan maskulin terlihat kewibawaannya sedangkan perempuan dipandang
lemah untuk melakukan pekerjaan yang sama.
Sejenak kita rata-rata selalu
berpikir bahwa wanita membutuhkan pendamping dan menjadi pihak yang menunggu,
sedangkan pria bisa mandiri dengan otomatisnya akan ada wanita yang mendampingi.
Pemikiran bahwa wanita tidak perlu melakukan pendidikan yang tinggi karena pada
akhirnya akan melayani suami dan anaknya. Akan menjadi hal yang sia-sia dan
akan menjauhkan ‘jodoh’ akibat kedudukan laki-laki disusul oleh perempuan. Para
lelaki akan merasa terintimidasi dengan posisi perempuan yang mandiri dan lebih
memiliki kemampuan yang potensial untuk mengembangkan diri dan karakter. Apabila
permasalahannya seperti itu, mengapa tidak para lelaki berjuang lebih keras
daripada perempuan? Yang digemborkan bahwa laki-laki kuat dan tahan banting,
dengan pembuktian dan mendukung kompetisi bersama perempuan maka tidak ada
alasan untuk merasa dikalahkan.
Bukti
ayat alquran yang menyamakan wanita dan laki-laki misalnya, ’wahai manusia,
kami telah menciptakan kamu dari satu jiwa menjadi laki-laki dan wanita, dan
menjadikan kamu bersuku-suku bangsa, agar kamu saling mengenal satu sama
lain”.(QS;49 ayat 13).
Tidak hanya itu, didalam al-Qur’an sering
memanggil para umat dengan sebutan yang digeneralisasikan, bukan dengan sebutan
pria maupun wanita. Namun kritik terhadap persamaan peran perempuan dengan
laki-laki dihalangi oleh faktor agama. Peraturan yang dijabarkan di kitab suci
untuk perempuan berkelakuan dan berpakaian. Salah satunya adalah pelarangan
perempuan untuk menduduki kepemimpinan, saya koreksi menjadi pilihan kedua. Apabila
terdapat calon laki-laki, maka sebaiknya memilih dia untuk menjadi pemimpin. Bagaimana
dengan syarat menjadi pemimpin yang kompeten dan amanah tetapi perempuan,
bersyukurlah mulai terlihat beberapa kepala daerah yang pemimpinnya perempuan. Layaknya
sosok bu Risma yang sukses merombak Surabaya menjadi kota yang lebih baik.
Gerakan feminist salah satunya yang
menginginkan persamaan derajat perempuan. Gerakan revolusioner dan kontroversial.
Apakah perempuan memang membutuhkan gerakan dukungan yang layaknya sebuah ideologi,
karena tidak semua orang paham esensi dari gerakan tersebut. Terdapat pula sexism dimana paham tersebut yang
membeda-bedakan pria dan wanita. Memandang gender satu superior dan yang lain
inferior. Paham yang bertolak belakang serta keberagaman yang mendapati masyarakat
kebingungan. Solusi akan ditemukan, namun pemikiran lain akan tumbuh yang
membutuhkan solusi lain dan seterusnya selama masyarakat bebas berpendapat dan
berpikir di era dimana negara berteriak demokrasi.
Islam menunjukkan bahwa salah satu
agama yang dinamis, walau tetap beracuan kitab suci al-Qur’an. Sehingga dalam
posisi hingar-bingar posisi kesetaraan hak gender, sudah tercantum dalam
ayat-ayat didalamnya tinggal kajian perspektif mana mengartikan ayat tersebut. Kompleksitas
memperbincangkan gender yang dikaitkan dengan agama tidak akan ada ujungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar