Senin, 09 November 2015

Kotak Gender

            Dari zaman nenek moyang sampai era modern dan globalisasi, isu gender tidak pernah kehabisan topik untuk dibahas. Sebenarnya gender itu apa? Jangan salah menyangka apabila mendengar isu gender yang selalu dikaitkan adalah pihak perempuan. Padahal gender tidak hanya perempuan saja. Gender hanya sebuah konstruksi untuk melihat peran sesuai kelamin yang dimiliki. Dari pemilihan kata untuk pengartian gender dalam bidang sosial saja jelas terlihat apabila manusia menyukai hal yang dikotak-kotakkan. Batasan yang dibuat melalui imajinasi dan menunjukkan suatu kekuasaan. Ya, kekuasaan apabila seorang laki-laki akan mengerjakan pekerjaan maskulin terlihat kewibawaannya sedangkan perempuan dipandang lemah untuk melakukan pekerjaan yang sama.
            Sejenak kita rata-rata selalu berpikir bahwa wanita membutuhkan pendamping dan menjadi pihak yang menunggu, sedangkan pria bisa mandiri dengan otomatisnya akan ada wanita yang mendampingi. Pemikiran bahwa wanita tidak perlu melakukan pendidikan yang tinggi karena pada akhirnya akan melayani suami dan anaknya. Akan menjadi hal yang sia-sia dan akan menjauhkan ‘jodoh’ akibat kedudukan laki-laki disusul oleh perempuan. Para lelaki akan merasa terintimidasi dengan posisi perempuan yang mandiri dan lebih memiliki kemampuan yang potensial untuk mengembangkan diri dan karakter. Apabila permasalahannya seperti itu, mengapa tidak para lelaki berjuang lebih keras daripada perempuan? Yang digemborkan bahwa laki-laki kuat dan tahan banting, dengan pembuktian dan mendukung kompetisi bersama perempuan maka tidak ada alasan untuk merasa dikalahkan.
            Bukti ayat alquran yang menyamakan wanita dan laki-laki misalnya, ’wahai manusia, kami telah menciptakan kamu dari satu jiwa menjadi laki-laki dan wanita, dan menjadikan kamu bersuku-suku bangsa, agar kamu saling mengenal satu sama lain”.(QS;49 ayat 13).
            Tidak hanya itu, didalam al-Qur’an sering memanggil para umat dengan sebutan yang digeneralisasikan, bukan dengan sebutan pria maupun wanita. Namun kritik terhadap persamaan peran perempuan dengan laki-laki dihalangi oleh faktor agama. Peraturan yang dijabarkan di kitab suci untuk perempuan berkelakuan dan berpakaian. Salah satunya adalah pelarangan perempuan untuk menduduki kepemimpinan, saya koreksi menjadi pilihan kedua. Apabila terdapat calon laki-laki, maka sebaiknya memilih dia untuk menjadi pemimpin. Bagaimana dengan syarat menjadi pemimpin yang kompeten dan amanah tetapi perempuan, bersyukurlah mulai terlihat beberapa kepala daerah yang pemimpinnya perempuan. Layaknya sosok bu Risma yang sukses merombak Surabaya menjadi kota yang lebih baik.
            Gerakan feminist salah satunya yang menginginkan persamaan derajat perempuan. Gerakan revolusioner dan kontroversial. Apakah perempuan memang membutuhkan gerakan dukungan yang layaknya sebuah ideologi, karena tidak semua orang paham esensi dari gerakan tersebut. Terdapat pula sexism dimana paham tersebut yang membeda-bedakan pria dan wanita. Memandang gender satu superior dan yang lain inferior. Paham yang bertolak belakang serta keberagaman yang mendapati masyarakat kebingungan. Solusi akan ditemukan, namun pemikiran lain akan tumbuh yang membutuhkan solusi lain dan seterusnya selama masyarakat bebas berpendapat dan berpikir di era dimana negara berteriak demokrasi.

            Islam menunjukkan bahwa salah satu agama yang dinamis, walau tetap beracuan kitab suci al-Qur’an. Sehingga dalam posisi hingar-bingar posisi kesetaraan hak gender, sudah tercantum dalam ayat-ayat didalamnya tinggal kajian perspektif mana mengartikan ayat tersebut. Kompleksitas memperbincangkan gender yang dikaitkan dengan agama tidak akan ada ujungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar